OVERDOSE PELANGI UNTUK TAMBA ATI: WISATA LIMPUNG DAN BATURRADEN 2026-01-24 13:20

Mengagumi pelangi di Curug Tirta Sela

 

Salam pejuang Bobocabin! Bobocabin buat saya adalah cara traveling Gen Z yang menarik dieksplorasi. Konsep kabin yang bersih dan nyaman, wifi yang lumayan, serta area cuci dan makan komunal, membuat pelanggan bebas mau masak di teras kabin, makan bersama di area komunal, atau pesan melalui aplikasi (kalau ada). Dan yang menarik adalah konsep tanpa TV dan full alami, di mana kita bisa menikmati kabut yang turun di sore hari, api unggun di malam yang cerah, atau nyanyian burung di pagi hari. Semuanya dengan shower air hangat dan toilet duduk bersih lengkap dengan jet spray. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

 

Bobocabin Dieng Pass sebenarnya bukan terletak di Dieng, tapi di Kabupaten Batang. Akses ke Dieng yang lebih nyaman adalah via Wonosobo (dari arah tenggara), sementara kalau dari Batang (utara) tanjakannya akan cukup ekstrem karena tebing antara Batang dan Dieng seperti tembok yang memagari pesisir utara Pulau Jawa. Bisa sih, tapi harus hati-hati sekali. Karena sudah sering ke Dieng, kami ke Bobocabin Batang hanya untuk menikmati lokasinya saja.

 

Bobocabin Dieng Pass

 

Rute dari exit tol Pekalongan ke Bobocabin Dieng Pass sarat dengan nostalgia, karena waktu kecil saya bersama famili dari Pekalongan pernah menjelajah area ini melalui rute Subah - Limpung - Bawang. Sepanjang perjalanan kami mengagumi pemandangan yang indah: jalan-jalan sempit namun mulus yang meliuk-liuk melalui sawah dan desa-desa kecil. Pegunungan nampak menjulang di depan, seiring posisi kami yang semakin tinggi. Inilah yang namanya “gemah ripah loh jinawi” --wilayah yang guyub, rukun, dan sejahtera!

 

Pemandangan ke Desa Bawang

 

Sebelum mencapai Bobocabin yang terletak di tepi perkebunan teh Dieng --penghasil teh Tambi yang terkenal itu-- kami singgah dulu di Desa Limpung. Desa ini sejak dulu adalah penghasil emping melinjo! Di sini kita bisa menemukan sentra penjualan emping melinjo di sekitar Terminal Bus Limpung. Berkeranjang-keranjang melinjo nampak terjajar di depo-depo Limpung, konon berasal dari sini maupun dari Banten. Tapi, penduduk sekitar Limpung-lah yang paling ahli menggeprek biji melinjo jadi tipis kering untuk emping kualitas bagus. Silakan beli untuk oleh-oleh, jangan lupa pilih yang kering, jangan yang basah!

 

Jajaran melinjo yang akan diolah jadi emping

 

Bobocabin Dieng Pass terletak di sisi Pegunungan Dieng dengan posisi tidak terlalu tinggi. Karena ini kebun teh, pemandangan indah menghampar di sisi area, dengan kerlap-kerlip Desa Limpung dan Bawang menjadi penghias cakrawala di malam hari. Di belakang sana, ada suatu pemandangan yang tidak kita dapatkan di Puncak Bogor: pegunungan tinggi yang membelah angin dari utara, sehingga awan nampak terpecah oleh sela-sela gunung membentuk lukisan yang unik dan terus berubah. Apalagi kalau sore hari, pemandangan ini bergabung dengan semburat jingga matahari sore. Dan juga dibanding Puncak, kawasan ini jauh lebih kencang anginnya --barangkali karena kami berkunjung di bulan Desember. Di malam hari suasana sangat sepi, bebas dari polusi suara knalpot motor dan mobil, karena pegunungan di belakang adalah hutan lindung yang tak berpenghuni. Cocok untuk mencari suasana yang sepi.

 

Pemandangan dari Bobocabin Dieng Pass

 

Formasi awan di Dieng Pass

 

Pemandangan malam di Dieng Pass

 

Bobocabin Baturraden terletak di tepi area Kebun Raya Baturraden. Berbeda dengan Dieng Pass yang berjarak tempuh 1 jam dari desa terdekat (Bawang), Baturraden hanya 30 menit dari Kota Purwokerto, tempat lahirnya mendoan. Masuk ke Baturraden pun suasananya sangat “kota” seperti Batu atau Lembang, di mana terdapat gapura besar dan banyak kios rumah makan berjajar di kanan-kiri. Kami membayar karcis masuk ke area hutan lindung Baturraden, lalu bergerak masuk ke area Bobocabin --mirip dengan Gunung Mas Puncak. Tapi, setelah bayar karcis, pemandangan langsung berubah! Pepohonan raksasa melingkupi kami, penuh dengan pakis rambat pertanda iklim lembab dan tanah yang subur. Kami merasa seperti Avatar, suku alien yang tinggal di pohon-pohon besar. Apalagi melihat lokasi Bobocabin Baturraden: kabin-kabin kecil di antara pepohonan raksasa, yang kanopinya 15-20 meter di atas kami. Luar biasa! Lokasi di hutan seperti ini memang suasananya berbeda dibanding di perkebunan teh seperti Batang.

 

Suasana Bobocabin Baturraden bagaikan film Avatar

 

Cuaca lembab dan alam liar membawa masalah tersendiri: lokasi dan kabin tidak bisa “steril” seperti di kebun teh. Sarang laba-laba nampak ada di bagian luar kabin, dan sesekali kegiatan di teras diganggu tawon. Tapi, namanya juga alam! “Di sini kita yang bertamu ke rumah mereka, bukan mereka yang bertamu ke rumah kita…” saya menjelaskan pada anak-anak. Namun standar kebersihan di dalam kamar tidak turun --bahkan ada humidifer khusus untuk menjaga kelembaban di dalam kamar.

 

Apa kegiatan menarik di Bobocabin? Rupanya, ada air terjun alias curug yang lokasinya dekat sekali. Akses umum baru dibuka jam 10 pagi, tapi akses bebas berlaku untuk penghuni Bobocabin. “Sebaiknya pagi jam 7, Pak, kalau mau ke curug,” kata petugas menjelaskan. Namanya Curug Tirta Sela. Aksesnya sangat nyaman dan steril: jalan berbatu dari depan kamar sampai ke lokasi, semuanya lengkap dengan tangga berpegangan tangan. Memang cukup curam turunnya: perlu hati-hati dan gunakan sandal atau sepatu yang cocok untuk hiking. Setelah menuruni tangga terakhir dan sibuk menikmati berbagai flora dan fauna di perjalanan termasuk menemukan buah neesia kesukaan orangutan --kami sampai di Curug Tirta Sela. Apa itu yang warna-warni terlihat dari kejauhan? Ya, itu pelangi!

 

Pelangi di Curug Tirta Sela

 

Menikmati pelangi di curug

 

Rupanya, karena curug ini berbentuk tirai air tipis, dan terletak persis tegak lurus dengan sinar matahari pagi yang datang dari celah tebing di lembah, kondisinya ideal untuk difraksi sinar matahari menjadi pelangi. Indah sekali! Air yang jernih seperti kaca, batu-batu yang bulat tergerus air, warna biru-hijau dari kedalaman danau, serta pelangi di kaki curug, membuat pemandangan terasa spektakuler. Bentuk dan lokasi pelangi akan berubah sesuai tingginya matahari dan posisi kita berdiri: kadang seperempat, kadang melengkung penuh. Dan anak-anak pun dengan mudah menghitung warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu! Tak perlu dihapal, semua warna ini terpampang indah dan jelas di depan kita. Luar biasa!

 

Di Bobocabin Baturraden bisa memesan meja untuk sarapan di depan curug

 

Makan di mana di Baturraden? Ada satu rumah makan yang menarik namanya Tamba Ati. Kata bahasa Jawa ini artinya “obat untuk hati”, beda dengan tambo ciek ala Minang. Rumah makan ini memiliki areal parkir yang luas, bahkan bus pun bisa masuk. Ruangannya besar dan bersih, penuh dengan foto-foto kuno Banyumas dan Purwokerto serta pepatah-pepatah Jawa khas Banyumas yang nyeleneh: misalnya “Padamu Kencot Jiwa Raga Kami” --“kencot” artinya lapar dalam dialek Banyumas. Ada juga dinding anyaman bambu Tamba Ati yang merupakan persembahan untuk budaya tani masyarakat Banyumas: ada topi caping, cangkul, lalu alu dan lumpang. Pengunjung bisa selfie dan main di sini! Selain itu, di sisi luar ada juga satu bangunan khusus berisi gamelan lengkap. “Kalau ada grup bisa belajar main gamelan di sini, ada gurunya…” kata Pak Jatmiko, pemilik tempat yang sedang sibuk menanam kopi ketika kami datang.

 

Pintu masuk Warung Tamba Ati

 

Berpose di Warung Tamba Ati

 

Interior Warung Tamba Ati

 

Makanannya pun boleh tahan: ada ayam goreng, tempe mendoan, mangut ikan, garang asem, termasuk camilan seperti kopi dan wedangan, dengan rasa lezat dan harga bersahabat. Yuk, main ke Baturraden dan mampir ke Tamba Ati! Betul-betul obat untuk hati yang gundah diterpa rutinitas beton dan layar handphone!

 

Hidangan di Tamba Ati: garang asem dan gecok ikan

 

Ayam goreng kremes di Tamba Ati

 

Pemesanan RM Tamba Ati Baturraden:

Bu Ninine Tri Hastuti +62 82221697807

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Kang Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia KulinerNasgor, Makanan Sejuta Mamat dan bersama Bondan Winarno (alm) dan Lidia Tanod menulis buku serial 100 Mak Nyus. Kang Harnaz juga aktif di Gerakan Fermenusa, yang bertujuan memajukan produk fermentasi Nusantara. Mengelola channel Youtube "Indonerdsia" dan "Fermentasi Nusantara".

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment