Gerbang terakhir imigrasi Thailand
Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang tahu posisi persis Negara Laos. Sebaliknya saya malah sangat tertarik dengan negara ini, terutama sejak membaca program China's Belt and Road Initiative (BRI). Laos merupakan negara komunis yang posisinya terkunci negara-negara Asia lain (landlocked country). Laos berbatasan dengan China di utara, Myanmar di barat, Thailand di barat dan selatan, Vietnam di timur, dan Kamboja di selatan atau tepatnya tenggara.
Laos juga merupakan salah satu pintu masuk menuju Asia Tenggara bagi China. Sejak 4 tahun lalu Pemerintah China membangun jalur kereta api cepat dari Kunming (China) menuju Vientiane (ibu kota Laos) dengan melewati Luang Prabang. Pemerintah China menyatakan pembangunan kereta cepat ini merupakan dukungan untuk Pemerintah Laos yang ingin mengubah Laos dari landlocked country menjadi land-linked country.
Ada berbagai cara menuju Laos. Kali ini saya tertarik melintas lewat darat dari kota besar paling utara Thailand yaitu Chiang Rai menuju Luang Prabang, kota kuno yang ditetapkan sebagai warisan budaya UNESCO. Perjalanan melewati jalan raya, melintasi Sungai Mekong dan menyeberangi Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Total memakan waktu kurang lebih 12 jam menuju suasana masa lampau di Luang Prabang.
AWAL PERJALANAN
Kami sekeluarga dengan 3 anak memulai perjalanan panjang dengan dijemput mobil van di hotel kami di Chiang Rai tepat jam 5 pagi. Sesudah itu mobil berkeliling kota untuk menjemput penumpang lain. Perjalanan menuju kota perbatasan Chiang Khong pun dimulai. Langit masih gelap dan semua penumpang melanjutkan mimpinya yang tertunda.
Kota Chiang Khong merupakan kota terakhir Thailand sebelum memasuki kota perbatasan Huay Xai, Laos. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Jalanan sangat mulus, tidak ada yang rusak. Sempat berhenti sejenak di rest area untuk ke toilet dan mobil mengisi bensin sambil kami sejenak menikmati sunrise.
Sejenak melemaskan kaki di rest area dan menikmati sunrise
Akhirnya kami tiba di Chiang Khong saat langit sudah terang. Mobil van berhenti di depan gedung perbatasan yang cantik. Supir van kemudian membagikan stiker untuk ditempelkan ke baju kami sebagai pertanda kami merupakan satu rombongan. Tak lupa, supir menginstruksikan untuk foto grup karena akan dikirim ke travel di pihak Laos.
Kota Chiang Khong di pagi hari
Gedung indah di perbatasan Thailand, cantik dan bersih ya
Semua penumpang dalam satu van mendapat stiker yang sama, sebagai penanda bagi petugas agen travel di perbatasan
MELINTASI PERBATASAN THAILAND-LAOS
Perbatasan Thailand ini cukup rapi dan bersih. Supir kemudian mengantar kami ke imigrasi Thailand untuk selanjutnya ada yang menjemput kami di zona perbatasan.
Suasana imigrasi keluar Thailand di Chiang Khong, masih sangat sepi pagi itu
Keluar imigrasi Thailand, kami menunggu bus yang mengantar kami menuju Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jembatan ini berdiri gagah melintasi Sungai Mekong yang lebar, menghubungkan Thailand dan Laos. Saya melihat banyak truk berisi barang-barang melintasi jembatan tersebut. Setelah semua penumpang naik, bus pun berjalan pelan melewati jembatan dan menurunkan kami di depan Gedung Perbatasan Laos yang uniknya berbentuk hampir sama dengan Gedung Perbatasan Thailand.
Deretan bus yang akan mengantar penumpang ke Jembatan Persahabatan Thailand-Laos
Di sini, rombongan kami dan rombongan lain (terlihat dari stiker yang berbeda) diarahkan oleh masing-masing agen perjalanan untuk mengisi manual kartu kedatangan. Karena warga berpaspor Indonesia tidak membutuhkan visa on arrival untuk masuk Laos, maka satu petugas agen perjalanan khusus membantu kami mengisi kartu kedatangan dan kartu keluar dari Laos. Petugas mengingatkan untuk menyimpan kartu keluar untuk diserahkan saat keluar dari Laos. Sementara anggota rombongan lain diarahkan petugas berbeda untuk membayar visa on arrival. Petugas agen juga menginstruksikan masing-masing anggota rombongan (yang menjadi tanggung jawabnya) untuk memotret barcode tiket kereta ke Luang Prabang dari ponsel miliknya.
Tersedia meja untuk menulis manual kartu imigrasi Laos
Akhirnya setelah selesai mengisi kartu kedatangan, baru kami diantar menuju imigrasi. Petugas imigrasi bertanya akan berapa lama kami tinggal di Laos. Konon jika masuk melalui jalan darat, harus minimal dua hari tinggal di Laos, kalau tidak ingin dicurigai hendak melakukan tindakan ilegal. Proses imigrasi cepat dan setelah keluar, kami harus membayar 50.000 kip (sekitar Rp40.000) sebagai tourist tax. Sebenarnya kami agak curiga dengan kewajiban ini (hasil browsing sebelumnya) tapi sudahlah, kelihatannya memang ada cetakan resmi (dalam bahasa yang tidak kami mengerti).
Gedung Perbatasan sisi Laos. Gedungnya mirip dengan sisi Thailand
WELCOME TO LAOS
Setelah melewati petugas imigrasi, kami menunggu di mobil van sesuai arahan petugas agen. Memasuki Laos, pengemudi mobil ada di sebelah kiri, jadi jalur perjalanan di sebelah kanan seperti di China, Amerika dan Eropa. Sementara di Thailand, sama seperti di Indonesia, di sisi kiri.
Laos, kami datang!! Terdapat beberapa pengumuman berbahasa Prancis dan Mandarin
Akhirnya setelah semua masuk ke mobil, dimulailah perjalanan panjang dan berguncang-guncang melewati jalan rusak serta berdebu parah. Suasana mirip sekali dengan daerah pedalaman Sumatra. Kami sempat istirahat sejenak untuk makan siang dan kembali berguncang bahkan van berjalan di pinggir jurang menuju stasiun kereta cepat yang megah, Na Teuy. Perjalanan memakan waktu 5 jam lebih.
Suasana rest area di Laos menuju stasiun kereta. Terdapat toilet jongkok sederhana tapi bersih berupa bangunan kayu terpisah
Aneka hidangan ala Laos siap disantap. Terdapat juga makanan seperti ketupat disiram santan. Banyak snack ringan termasuk Bengbeng buatan Indonesia
Stasiun Na Teuy besar dan berada di antara bukit-bukit hijau. Desainnya mirip stasiun kereta api di China. Setelah menunjukkan barcode dan semua barang bawaan dipindai (persis seperti di stasiun China), kami menunggu kurang lebih 2 jam untuk menaiki kereta menuju Luang Prabang. Lucunya, selain tulisan Bahasa Inggris dan Lao, banyak juga tulisan Hanzi Mandarin, bahkan toko di stasiun menerima Alipay dan Wechat Pay. Di sini banyak sekali penduduk lokal yang sama-sama menunggu kereta cepat buatan China ini.
Suasana di luar Stasiun Na Teuy, indah berbukit dan sejuk
Pintu penjualan tiket, di sampingnya pintu masuk
NAIK KERETA MENUJU LUANG PRABANG
Tepat pukul 14.00 petugas membuka gerbang untuk check in (persis seperti di China).Kurang lebih 10 menit sebelumnya banyak orang mulai mengantre untuk check in. Tepat pukul 14.20 kereta datang dan kami masuk kereta sesuai gerbong. Gerbong sangat penuh (kami dapat kelas 2) dan banyak sekali barang bertumpuk memakan tempat.
Antrean check in mulai dibuka. Harus menunjukkan barcode tiket serta identitas
Suasana dalam stasiun Na Teuy, sesudah melewati mesin pindai dan pemeriksaan barang
Terdapat mesin dispenser air (bisa air panas) seperti di stasiun-stasiun China. Semua tulisan dalam 3 bahasa (Lao, Inggris dan Mandarin)
Beberapa kali kereta berhenti di stasiun dan banyak penumpang masuk. Lucunya, ada beberapa penumpang sepertinya “membeli tiket” kepada petugas di dalam kereta. Petugas-petugas duduk di kursi, lalu penumpang datang memberikan uang ke petugas. Saya sungguh penasaran dengan kegiatan ini. Percaloan kah? Sayang tidak mengerti bahasa Lao.
Beginilah bentuk keretanya
Suasana kereta cepat seperti kereta kelas 3 di Indonesia, lengkap dengan bau-baunya, hahaha. Akhirnya setelah hampir 2 jam, sampailah kami di stasiun Luang Prabang yang juga megah. Penumpang banyak yang keluar dan banyak rombongan turis China masuk ke kereta setelah kami keluar. Uniknya, penumpang yang turun seperti “diusir” agar cepat keluar dari stasiun dan pintu keluar segera ditutup.
Pemandangan di luar kereta, lumayan cantik ya
Rombongan turis China menuju Vientiane bersiap masuk kereta di stasiun Luang Prabang. Banyak sekali turis China datang ke Luang Prabang, mungkin karena sekarang akses masuk Laos lebih mudah
Sesampai di stasiun Luang Prabang, masih dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk mencapai Kota Luang Prabang. Ternyata stasiun Luang Prabang sengaja dirancang jauh di luar kota agar masyarakat sekitar memiliki lapangan pekerjaan mengantar turis ke Kota Luang Prabang (berdasarkan informasi supir yang kami sewa). Sipppp… akhirnya setelah hampir 12 jam, jam 5 sore kami berhasil mencapai hotel kami di tepi Sungai Mekong, Luang Prabang…… Sungguh perjalanan yang unik menuju kota masa lampau.
Penampilan luar Stasiun Luang Prabang yang megah