CAP GO MEH GALA FEAST DI HOUSE OF TUGU JAKARTA, WARISAN KULINER PERANAKAN DI KOTA TUA 2026-03-04 15:20

Tugu Lontong Cap Go Meh

 

House of Tugu Jakarta menghadirkan tradisi Cap Go Meh melalui sebuah perjamuan eksklusif, Cap Go Meh Gala Feast, yang berlangsung 3-31 Maret 2026 dan disajikan di Babah Koffie by Kawisari. Cap Go Meh, yang dalam dialek Hokkien berarti malam kelima belas, menandai penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang telah berkembang sejak masa Batavia dan menjadi bagian dari sejarah budaya Peranakan di Indonesia. Tradisi ini lahir dari pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara yang membentuk warisan kuliner khas dan terus hidup hingga saat ini. Dari perpaduan bahan, rempah, dan teknik memasak, berkembang hidangan ikonis seperti Lontong Cap Go Meh, sajian yang hadir sebagai hasil pertemuan dua pengaruh budaya dan tidak ditemukan dalam bentuk yang sama dalam tradisi kuliner Tiongkok maupun Jawa klasik.

 

BABAH KOFFIE BY KAWISARI, RUANG YANG MERAWAT NARASI PERANAKAN 

Babah Koffie by Kawisari bukan sekadar restoran yang mengangkat tema Peranakan sebagai estetika. Sejak awal, ruang ini dirancang untuk merawat warisan Peranakan melalui interior autentik, koleksi artefak, dan dapur yang mengakar pada tradisi Jawa-Tionghoa.

 

 

Kopi yang dihidangkan berasal dari Perkebunan Kawisari milik Tugu di Jawa Timur, yang berdiri sejak 1870 dan masih beroperasi hingga kini. Setiap cangkir menghadirkan cerita panjang yang menghubungkan tanah, sejarah, dan tangan-tangan yang merawatnya selama lebih dari satu abad.

 

Di sinilah Cap Go Meh Gala Feast ditempatkan. Bukan sekadar karena pilihan, melainkan karena suasana dan nilai tradisi Peranakan yang hidup di ruang ini terasa begitu alami dan menyatu, menjadikannya tempat yang paling tepat untuk merayakan momen ini.

 

TIGA HIDANGAN, TIGA LAPIS MAKNA

Seluruh sajian dirancang bersama Jajaghu dan Babah Koffie, dengan pendekatan yang menempatkan simbol budaya setara dengan cita rasa.

 

Imperial Prawn Money Bag

Kantong kulit tahu renyah berisi udang segar dan water chestnut, disajikan dalam mangkuk hitam dengan asap tipis yang mengepul. Bentuknya bukan aksidental, menyerupai pundi uang, ia adalah doa yang bisa dimakan, simbol harapan akan rezeki dan keberuntungan yang membuka malam perayaan.

 

Tugu Lontong Cap Go Meh

Dalam rangka merayakan Cap Go Meh, Babah Koffie by Kawisari menghadirkan Tugu Lontong Cap Go Meh sebagai sajian khas Peranakan yang kaya makna dan cita rasa. Lontong daun bambu disajikan bersama ayam opor resep pusaka Mpok yang diwariskan secara lisan lintas generasi, dilengkapi lodeh labu siam dan udang segar, telur hitam, sate ayam, balado kentang irisan tipis, koya kedelai putih, serta peyek kacang yang menyatu dalam harmoni rasa. Hidangan ini merepresentasikan pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara yang telah berakulturasi selama berabad-abad dan terus hidup dalam tradisi kuliner hingga hari ini.

 

Ronde Tiga Warna

 

Bola-bola ketan tiga warna —merah, putih, hijau— mengapung dalam kuah jahe yang hangat dan aromatik, berisi gula merah dan kacang cincang. Sederhana dalam tampilan, namun kaya makna. Tiga warna yang tidak saling melebur, tetapi hidup berdampingan dalam satu mangkuk, melambangkan harmoni dalam keberagaman yang dirayakan pada malam Cap Go Meh.

 

Menurut manajemen House of Tugu Jakarta, program ini merupakan bagian dari komitmen untuk merawat narasi sejarah Peranakan melalui pengalaman kuliner yang kontekstual. “Cap Go Meh Gala Feast kami hadirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Peranakan dan sejarah Kota Tua Jakarta. Melalui pengalaman bersantap ini, kami ingin menghidupkan kembali tradisi dalam ruang yang autentik dan relevan dengan masa kini,” ujar perwakilan manajemen House of Tugu Jakarta.

 

Perayaan tahun ini berlangsung dalam periode yang istimewa, ketika berbagai tradisi hadir berdampingan dalam kalender yang sama. Namun malam Cap Go Meh tetap menjadi pusat perhatian, dirayakan melalui perjamuan yang mengangkat warisan kuliner Peranakan dalam nuansa merah dan emas yang sarat makna.

 

TENTANG HOUSE OF TUGU JAKARTA

House of Tugu, Old Town Jakarta dibangun melalui proses panjang selama lebih dari 15 tahun, sebagai upaya mendokumentasikan kisah-kisah yang diwariskan oleh leluhur keluarga Tugu Group dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar jejak sejarah yang berharga ini tidak hilang oleh waktu. Banyak dari cerita tersebut berakar sejak pertengahan abad ke-19, melekat pada artefak dan pusaka keluarga yang kini menjadi bagian dari koleksi bersejarahnya.

 

Kisah-kisah ini hidup kembali saat berkunjung ke House of Tugu Jakarta, di mana rangkaian koleksi peninggalan leluhur dipamerkan dan terjalin dengan narasi yang membentuk identitas tempat ini sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: https://tuguhotels.com/hotels/jakarta/ 

 

Untuk reservasi, silahkan menghubungi: +62 811 8711 248

Media Sosial: @houseoftugujakarta | @babahkoffiejakarta | @jajaghujakarta 

 

Teks & Foto: Istimewa
Comment