UXO (UNEXPLODED ORDNANCE), AMUNISI YANG BELUM MELEDAK DI LAOS. WARISAN PERANG YANG MENGERIKAN 2026-01-28 12:10

Halaman UXO Lao Visitor Center dihiasi dengan selongsong bekas bom yang ditata cantik dengan tanaman hias

 

Pernah nggak membayangkan kengerian yang dirasakan setiap kali berangkat ke sekolah atau ke tempat kerja karena taruhannya meninggal atau cacat karena tidak sengaja menginjak UXO? UXO adalah Unexploded Ordnance atau amunisi seperti bom, granat, proyektil artileri dan roket yang belum meledak. Begitulah yang dialami penduduk Lao People's Democratic Republic (LPDR), yang kita kenal sebagai Laos. Mengapa sampai demikian?

 

Pintu masuk UXO Lao Visitor Center di Luang Prabang, yang dihiasi selongsong kosong bekas bom 

 

BAGAIMANA SEMUANYA BERMULA

Laos adalah salah satu dari 5 negara di dunia yang masih menganut paham komunis. Laos juga merupakan tanah yang selalu menjadi rebutan negara-negara tetangganya sejak dahulu kala, karena posisinya benar-benar di tengah (landlocked country) dan tidak memiliki perbatasan laut. Sepanjang sejarah Laos berdiri, negara ini selalu dipenuhi kisah invasi.

 

Di masa kejayaan Kerajaan Burma (Myanmar), pada abad ke-16 dan ke-18 Burma pernah menduduki Laos. Lalu Kerajaan Siam (Thailand) berganti menjajah Laos di abad ke-18 dan ke-19. Pada masa itu kelompok bersenjata China sempat menyerang bagian utara Laos di tahun 1870-1880, dan terjadilah konflik perbatasan selatan Laos dengan Kamboja. Thailand lalu menyerahkan Laos kepada Prancis untuk mencegah penjajah Prancis menguasai Thailand. Dan Prancis pun menjadikan Laos bagian dari Indochina Prancis. Laos sebagai bagian dari Indochina Prancis akhirnya jatuh ke pendudukan Jepang pada Perang Dunia II. Setelah selesai Perang Dunia II Laos menyatakan kemerdekaan di tahun 1949 tetapi Prancis baru mengakui kemerdekaan Laos pada tanggal 22 Oktober 1953.

 

Cerita invasi ke Negara Laos tidak berhenti di situ. Setelah merdeka pun, Laos harus menghadapi perang Indochina. Sebagai bagian dari perang Indochina pada tahun 1958–1959, Vietnam bagian utara melakukan invasi militer ke Laos dan membangun rute logistik strategis yaitu Jalur Ho Chi Minh (Ho Chi Minh Trail). Jalur yang melewati Laos ini digunakan untuk memasok pasukan Vietnam bagian selatan dari Vietnam bagian utara. Saat itu terjadi juga perang saudara di Laos antara Pathet Lao yang beraliran komunis dengan Kerajaan Laos.

 

Di sinilah masalah berawal. Vietnam mendukung pasukan komunis Pathet Lao melawan pemerintah Kerajaan Laos yang didukung Amerika Serikat. Pada tahun 1964-1973 Amerika Serikat melakukan operasi rahasia serangan udara untuk menghentikan jalur pasokan komunis (Ho Chi Minh Trail) dari Vietnam Utara. Jadi meskipun Laos menyatakan bersikap netral pada perang Vietnam, Amerika Serikat tetap menjatuhkan jutaan bom ke tanah Laos.

 

Semua peristiwa ini mengakibatkan Laos menjadi negara terbanyak di dunia yang dijatuhi bom perang. Diperkirakan terdapat 30 persen atau sebanyak 80 juta bom yang tidak meledak (UXO) tersebar di seluruh Laos. Mencemari 25 persen tanah Laos dan bisa meledak kapan pun karena terkubur di tanah.

 

Kegiatan sederhana seperti bercocok tanam di ladang atau sawah, membangun rumah, berjalan di hutan, di kebun, atau berjalan kaki ke sekolah menjadi ancaman bagi keselamatan penduduk Laos. Mereka tidak tahu apakah tanah tempat mereka berdiri mengandung UXO atau tidak. Tidak ada jaminan apakah mereka akan selamat karena UXO bisa tiba-tiba meledak di bawah kaki. Sudah banyak korban penduduk Laos baik anak-anak, dewasa hingga lansia berjatuhan karena bom UXO ini.

 

UPAYA PEMERINTAH LAOS

Begitu menakutkannya efek UXO dan sangat mengganggu kegiatan masyarakat Laos sehari-hari, maka sejak tahun 1996 Pemerintah Laos mendirikan Lao National Unexploded Ordinance Programme (UXO Lao). Tujuannya adalah mengurangi kejadian bom meledak dan mengurangi korban jiwa, serta meningkatkan jumlah tanah yang bebas dari bom. Tanah yang bebas dari bom akan meningkatkan produksi pangan dan memulihkan pembangunan sosial ekonomi Laos. UXO Lao mengedukasi penduduk mengenai bahaya UXO, mendeteksi posisi UXO, meledakkannya dengan aman dan membersihkan tanah dari semua UXO.

 

UXO Lao bekerja keras membersihkan tanah Laos dari UXO pada 9 provinsi terbanyak terkontaminasi UXO yaitu Attapeu, Champasak, Huaphanh, Khammuane, Xiengkhouang, Savanakhet, Salavan, Sekong dan Luang Prabang. UXO Lao berkantor pusat di Vientiane Capital (ibu kota Negara Laos) dan didukung oleh banyak negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Irlandia, dan Luxembourg. Juga didukung  banyak organisasi internasional terutama Swiss Foundation (World Without Mines), JICA, UNICEF dan UNPD.

 

Peta sebaran UXO di Laos. 25 persen tanah Laos tercemar UXO yang berbahaya dan bisa meledak sewaktu-waktu

 

UXO Lao selama 26 tahun melakukan edukasi bahaya UXO ke masyarakat, menemukan lebih dari 16 juta UXO dari 570 desa, dan mengamankan lebih 39.000 hektar dari 4.500 tempat berbahaya UXO. UXO Lao juga berhasil membersihkan 48.000 hektar sehingga dapat dimanfaatkan kembali dengan aman, dan menghancurkan lebih dari 1.750.000 benda UXO. Salah satu komponen edukasi UXO Lao adalah UXO Lao Visitor Centre di Luang Prabang. UXO Lao Visitor Centre merupakan rumah penuh informasi dan pameran beragam jenis unexploded ordnance (persenjataan yang belum meledak) serta film mengenai bahaya UXO. Tidak dipungut biaya untuk mengunjungi UXO Lao Visitor Centre tetapi silakan kalau ingin memberikan donasi. UXO Lao Visitor Centre buka dari Senin hingga Jumat pukul 08.00-12.00, dan 13.00-16.00.

 

Kami mengunjungi UXO Lao Visitor Centre di hari Natal 2025 karena diajak supir kami Mr. Chanthy yang salah satu anggota keluarganya terkena UXO. Mr. Chanthy ingin membukakan mata kami tentang bahaya UXO. UXO Lao Visitor Centre tidak besar dan tidak banyak turis yang datang. Suasana mengerikan tidak tampak di dalam visitor centre, malah pengunjung diajak melihat karya seni ukir selongsong bom karya Buopaul Photizan yang berjudul “Stories from Pleateu”. Terdapat 3 selongsong bom yang besar berisi 3 kisah sedih korban UXO.

 

Suasana di dalam UXO Lao Visitor Center. Di sebelah kanan adalah karya seni ukir dari bekas selongsong bom karya Buopaul Photizan yang berjudul “Stories from Pleateau”. Ukiran ini berdasarkan kisah nyata dari 3 korban UXO (Ibu Guru Buoakham, Petani Jieng dan Bhiksu Bounmy). Buopaul Photizan sendiri mengalami trauma akibat menyaksikan kecelakaan UXO di masa kecilnya.

 

Beberapa alat pendeteksi bom dan bom UXO super besar yang telah dijinakkan. Ternyata banyak juga bom-bom berukuran besar, tidak bisa dibayangkan kalau bom sebesar ini meledak.

 

Beberapa jenis bom-bom kecil yang sering terpendam di dalam tanah dan bisa meledak sewaktu-waktu

 

Bom-bom berukuran sedang yang telah ditemukan dan dijinakkan

 

Safety gear untuk petugas lapangan UXO

 

Cerita pertama dari Ibu Guru Buoakham yang mengajar di tempat terpencil Provinsi Xieng Khouang. Saat masuk ke hutan untuk mencari makanan ternak, Ibu Buoakham tidak sengaja terkena UXO yang meledak dan kehilangan lengan serta sebagian kakinya. Cita-citanya untuk menjadi guru terpaksa kandas. Kisah kedua berasal dari Petani Jieng dari Provinsi Attapeu. Saat Pak Jieng memotong pohon dengan parang, tidak sengaja mengenai UXO dan meledak. Pak Jieng kehilangan satu kaki dan salah satu anggota keluarganya meninggal seketika. Kejadian tragis lainnya menimpa Bhiksu Bounmy dari Provinsi Sekong. Awalnya Bounmy muda menikah setelah perang Indochina berakhir. Beliau memiliki istri beserta 3 anak. Demi keluarga kecilnya, Pak Bounmy ingin membangun rumah keluarga. Saat kejadian istri Pak Bounmy menggendong anak bungsunya yang baru lahir dan memasak di luar dibantu anak perempuan tengah sedangkan Pak Bounmy membangun rumah dibantu oleh anak laki-laki pertamanya. Mereka memotong pohon dan membakar sampah, tetiba api yang dinyalakannya memicu ledakan UXO. Pak Bounmy kehilangan kakinya dan anak lelakinya meninggal seketika terkena bom. Pak Bounmy tidak dapat bekerja dan menjadi beban istri dan anak tengahnya. Akhirnya demi tidak menjadi beban, Pak Bounmy memutuskan menjadi bhiksu. Kejadian-kejadian seperti ini sering muncul di Laos. Mengganggu pertanian dan sosial ekonomi Laos.

 

Kain tenun khas Laos yang menggambarkan kehidupan sehari-hari penduduk Laos

 

Ornamen dan alat makan dari alumunium bekas bom. Tahun 1975 di Desa Ban Napia Distrik Phaxay Provinsi XiengKhuang, seorang asing datang memberi ide dan mengajarkan penduduk untuk mengolah sisa bom perang. Ide menghasilkan dan memberikan penghasilan pada penduduk desa. Hubungi: Ms.Noi (email: kemahanin_dong@hotmail.com, telp. +8562099890019)

 

Sebagai salah satu elemen penting dari UXO Lao adalah edukasi. Petugas UXO Lao menggunakan media boneka tradisional karena hampir separuh korban UXO adalah anak-anak. Selain itu di UXO Lao Center juga terdapat ruangan film mengenai bagaimana cara kerja petugas UXO di lapangan.

 

Setelah mengunjungi UXO Lao Visitor Centre, kami jadi lebih memahami makna pepatah “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. Bahkan perang yang sudah berakhir lebih dari 50 tahun yang lalu masih meninggalkan warisan mengerikan bagi masyarakat Laos. Peace On Earth!!

 

Silakan mengunjungi situs https://uxolao.gov.la/ untuk melihat kegiatan UXO Lao dan berdonasi.

 

Teks: Veronica Vera Desyani Wiraja Foto: Audrey Kaiya Laonma Wiraja Lumban Gaol
Comment